MISTERI SI GADIS KUCING (BAG. 2)
BAGIAN 2
AMBIL ALIH
Situasi semakin tidak terprediksi, tadi pagi seolah semua baik-baik saja, kenapa sekarang menjadi kalut begini? Aku selalu takut jika berurusan dengan hukum, dahulu ayahku pernah menjadi korban salah tangkap karena dituduh mencuri kapal milik seorang juragan ikan di kampungku. Aku khawatir hal itu bisa saja terulang kepadaku. Apalagi ini adalah kasus kematian seseorang yang diduga menjadi korban pembunuhan. Ya ampun, kenapa harus tetangga dekatku? Jadinya aku turut terkena permasalahannya.
Mata itu, tatapan mata polisi itu membuatku takut. Bibirnya memang tersenyum, tetapi aku tahu sorot matanya yang tajam itu seolah sedang menghakimi. Aku hanya bisa menunduk tak berani menatap. Sementara Mbak Rina terkulai lemas di sofa. Posisinya berjarak sekitar dua meter agak menjauh dariku. Aku kasihan melihatnya. Katakanlah dunia menganggap hari ini sebagai tragedi kriminalitas, tetapi bagi Mbak Rina, ini adalah hari kematian suaminya. Ini adalah hari bela sungkawa. Orang kerja saja ada hari cuti berduka cita. Kenapa Mbak Rina malah disibukkan dengan kepentingan penyidikan?
"Baik, Mbak Resti. Seperti yang sudah diinformasikan oleh Ibu Rina bahwa suaminya yang bernama Bondan Amirudin telah ditemukan tergeletak di lantai Apartemen... "
"Eh... Rumah Susun, Pak, bukan Apartemen" Aku meralatnya.
"Oke, Rumah Susun." Ia mengembuskan napas hingga angin dari hidungnya turut menggerakkan lembar buku di meja. Ia menatapku agak kesal. Entah apa alasannya, mungkin karena dia tidak suka aku meralat ucapannya. Lagipula seorang polisi yang tahu hukum seharusnya tahu perbedaan definisi antara apartemen dan rumah susun. Aku tahu kok ini rumah subsidi, tidak perlu diperhalus dengan istilah apartemen seolah-olah aku membayarnya setiap bulan kepada pengelola.
"Saya ulangi ya, Mbak Resti," katanya melanjutkan. "Suami dari Ibu Rina yang bernama Bondan Amirudin ditemukan tergeletak di lantai Rumah Susunnya pagi ini." ucapannya melantang pada bagian 'Rumah Susun' seolah menegaskan Kali ini dia tidak salah sebut. Padahal dengan menyebut kata 'Rumah' saja sudah cukup.
"Ada darah menggenang di sekitar tubuhnya," katanya lagi. "Di wajahnya terdapat banyak sekali bekas luka sayat. Ada sekotak sereal makanan kucing yang tumpah ruah di samping jazadnya. Juga ditemukan jejak telapak kaki kucing berlumur darah yang arahnya dari genangan darah korban sampai keluar menuju tangga lorong. Ada bekas lubang di leher korban yang sepertinya juga bekas gigitan si makhluk mungil itu."
"Jadi, hubungannya dengan saya apa ya, Pak?" kataku penasaran.
"Anda kan tetangganya. Apakah anda tidak mendengar sesuatu semalam? Semacam gemuruh atau teriakan?"
"Tidak, Pak. Saya sedang tidur."
"Kapan terakhir kali anda bertemu dengan korban?"
"Mungkin... Sekitar dua hari yang lalu ketika dia membantu saya memperbaiki kipas angin yang rusak."
"Kipas angin?"
"Iya. Kenapa, Pak?"
"Anda tahu apa pekerjaan korban?"
"Maaf, Pak. Sepertinya istrinya yang lebih berwenang menjawab."
"Sedari pagi dia tidak mau mengatakan apapun. Kecuali meminta mayat suaminya dikembalikan. Syukur raungannya telah berhenti setelah kami sempat membawakan seorang Psikiater untuk menenangkannya. Kami masih memerlukan jazad suaminya untuk kepentingan Autopsi."
Seketika aku menoleh ke arah Mbak Rina. Sungguh kasihan sekali aku melihatnya. Ini adalah hari duka cita baginya, seharusnya dia sudah berjalan pulang dari pemakaman didampingi beberapa keluarga atau kerabat. Namun, kematian yang tidak wajar membuatnya harus menunda segala prosesi pemakaman almarhum suaminya itu.
"Dia bekerja di toko elektronik. Sementara istrinya...," aku jeda sejenak percakapan ini. Aku takut salah bicara sehingga malah semakin melebarkan permasalahan.
"...Istrinya kenapa?"
"Eh... Tidak, Pak. Saya tidak tahu pekerjaan Mbak Rina."
Lagi-lagi aku melirik ke arah Mbak Rina. Tatapannya kosong. Aku yakin ia tidak mendengar pembicaraanku dengan Polisi ini, karena mungkin konsentrasinya sedang gelap. Polisi itu menatapku semakin tajam. Aku yang ketakutan terpaksa menundukkan pandangan.
"Kalau anda tidak menjawab jujur, saya tidak akan bisa membantu anda pulang ke rumah dan beristirahat lebih cepat, Mbak Resti."
"Di-di-dia bekerja di Cafe Purna Bulan, Pak." Aku sedikit gugup.
"Sebagai apa? Pramusaji?"
Aku menggeleng.
"Bartender?"
Aku menggeleng lagi.
"Cleaning Service?"
"Bukan, Pak."
"Koki?"
"Bukan juga."
"Pramuria?"
Kali ini aku mengangguk. Polisi itu terlihat puas sekali mendapatkan jawabannya. Ia sedikit memundurkan badan dan bersandar pada sofa sambil kemudian dengan santainya menyelipkan sebatang rokok di bibir, Pematik ia nyalakan pada ujungnya. Maka keluarlah asap putih berembus dari lubang hidung dan mulut.
"Eh, jadi kapan jenazahnya bisa dibawa pulang dan dimakamkan, Pak?"
"Sebentar... Sabar dulu," katanya sambil membuka lembar catatan. Kemudian datang dua orang polisi lagi dari arah dapur rumah Mbak Rina. Masing-masing berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Sepertinya mereka anak buah dari polisi yang menginterogasiku. Barangkali yang duduk di depanku ini adalah komandannya. Ia menoleh ke belakang ke arah anak buahnya yang baru tiba.
"Gimana?" tanya komandan polisi itu kepada anak buahnya.
"Tidak ditemukan apapun, Ndan," ucap salah satu anak buahnya. Komandan polisi tersebut mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Ia terlihat sedang menghubungi seseorang. Aku hanya melongo menunggu tahapan interogasi berikutnya sambil menyaksikannya menempelkan ponsel di telinga. Sumpah, aku ingin sekali masuk ke rumah dan istirahat. Ini adalah hari kerja yang melelahkan. Aku perlu istirahat merebahkan badan. Kenapa aku jadi direpotkan oleh masalah semacam ini?
"Halo!"
"Iya...,"
"Ada tugas."
"Nanti saya kirim alamatnya."
"Oke."
Hanya kalimat itu yang ku dengar darinya. Ia terlihat memanggil bantuan seseorang untuk menangani masalah ini. Setelah menutup teleponnya, ia berdiri sambil membereskan beberapa kertas dan buku yang berserakan di meja. Kemudian ia masukkan ke dalam tas hitam miliknya.
"Satu jam lagi kawan saya akan datang untuk mengambil alih kasus ini, saya permisi dulu, ada urusan mendadak."
Hah? Urusan mendadak? Maksudnya apa? Aku benar-benar tidak mengerti. Polisi ini beserta anak buahnya pergi begitu saja setelah pertanyaan mengenai pekerjaan? Bukankah seharusnya dia bisa bertanya lebih detail lagi? Begitu kan kalau interogasi di film-film? Jika memang kasusnya harus diambil alih, kenapa tidak sedari tadi? Dan kenapa dia tidak menyuruh beberapa anak buahnya untuk tinggal? Setidaknya mengawasi dan menjaga TKP untuk mengamankan bukti-bukti yang ada. Apakah mereka tidak khawatir kalau aku bisa saja menghilangkan bukti jika memang mereka mencurigaiku sebagai pelaku? Atau mereka tidak khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Mbak Rina? Bahkan untuk kasus pembunuhan mereka bisa bersikap semeremehkan itu?
Entahlah. Aku pusing memikirkan banyaknya kejanggalan ini. Ada baiknya mereka cepat pergi. Aku sudah gerah, ingin sekali ku guyur seluruh badanku dengan air dingin. Setelah itu melekat di tempat tidurku untuk istirahat. Tapi, melihat keadaan Mbak Rina yang masih lesu dengan tatapan kosong, aku menjadi tidak tega meninggalkannya. Tidak mungkin aku meminta bantuan dari tetangga lain untuk menemaninya. Meskipun memijak pada petak tanah yang sama serta bernaung atap yang sama, namun kehidupan di Rumah Susun ini tak cukup harmonis. Penghuninya lebih banyak disibukkan dengan urusan masing-masing. Aku bahkan tidak mengenal seluruh penghuni di sini. Hanya Mbak Rina serta Mas Bondan yang ku kenal karena memang rumah kami berhadapan. Sebetulnya aku kenal satu keluarga lagi yang tinggal di sebelah rumah Mbak Rina. Namun, mereka sedang liburan di luar kota.
"Mbak... Aku mau mandi dan ganti baju dulu, ya. Mbak aku tinggal sebentar nggak apa-apa, kan?" Aku meminta izin sambil mengelus-elus tangannya. Mbak Rina pun mengangguk. Rasanya aneh, orang yang semula ingin sekali aku maki-maki karena kemalasannya dalam menjaga kebersihan lorong, kini malah aku harus bersikap lembut. Setidaknya peristiwa ini mengajarkanku tentang adab bertetangga.
Sekeluarnya aku dari rumah Mbak Rina, kembali aku melihat jejak telapak kaki kucing yang masih membekas. Aku berpikir apa aku bersihkan saja ya? Tapi, kasus ini masih belum jelas. Barangkali jejak ini masih diperlukan untuk kepentingan penyelidikan. Ku langkahkan kaki mendekati pintu rumahku. Gagang pintu ku raih lalu ku dorong masuk. Akhirnya sampai juga di dalam rumah. Ruangan seolah gelap, mungkin karena cuaca mendung dan malam ini sepertinya akan turun hujan. Aku menekan saklar lampu di dinding untuk menyalakan penerangan satu-satunya yang ada di ruangan ini. Segera ku lempar tas ku di ranjang yang letaknya berdekatan dengan ruang TV, ku rebahkan diri tubuh lelah ini di atas sofa. Badanku sudah gerah ingin sekali segera disiram air dingin. Tapi, nanti saja. Ku nikmati posisi tiduran ku lebih dulu.
Aku memejamkan mata sejenak, lalu ku buka kembali. Objek yang kulihat setelah membuka mata adalah pintu. Apa? Pintu? Sepertinya ada yang aneh. Bukankah tadi pagi sudah ku kunci pintu rumahku? Kenapa aku langsung bisa membukanya? Aku tiba-tiba merinding dan langsung berdiri. Ku ambil kembali tas kerjaku lalu mengorek-ngorek isinya. Ku dapati kunci pintuku masih utuh di dalam tas. Aku melirik ke arah tirai yang menutupi jendela. Siapa yang menutup tirai ini? Padahal biasanya selalu ku buka tirainya. Pantas saja ruangan jadi agak gelap.
Dalam ketakutan ini aku jadi ingin segera kembali ke rumah Mbak Rina. Lebih baik aku di sana saja. Meskipun kondisi Mbak Rina terlihat sedang tidak wajar, itu lebih baik daripada aku sendirian diteror ketakutan. Aku tak peduli dengan kondisi badanku yang sudah tidak nyaman karena keringat, gerahku hilang seketika berubah menjadi merinding. Urusan mandi, gampang, nanti saja.
Nyaris langkah kakiku mendekati pintu, tiba-tiba...
Tok tok tok...
Pintu rumahku ada yang mengetuk. Biasanya aku refleks membuka pintu, tapi karena kini suasana sedang kalut, aku malah ragu. Tubuhku bergetar tiba-tiba.
Tok tok tok...
Harus bagaimana ini? Aku tak siap menyambut tamu untuk saat ini. Cukup banyak hal yang membuatku ternganga di hari ini. Alih-alih maju untuk membukakan pintu, aku malah mundur perlahan, berjaga-jaga kalau sesuatu yang buruk muncul dari balik pintu. Bagaimana kalau yang datang adalah...
***
Komentar
Posting Komentar