MISTERI SI GADIS KUCING (BAG. 3)

BAGIAN 3
MELARIKAN DIRI


 Masih hanya ku dengarkan suara ketukan pintu itu. Meski masih ada rasa takut menyelimuti, pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membukanya. Seorang pria berkacamata berbadan tegap berdiri di depan pintu seraya menampakkan senyum ramahnya. Kumis tipis di atas bibirnya turut melengkung ke atas. Wajahnya putih bersih dengan hidung mancung yang semakin menambah kesan tampan pria itu. Bulu cambang nampak simetris memeriahkan sisi kulit rahangnya.


Aku lega, karena beberapa kejadian janggal hari ini membuatku paranoid untuk menghadapi peristiwa-peristiwa baru. Untung saja yang di depanku ini kelihatannya manusia waras. Penampilannya biasa saja namun rapih. Ia mengenakan kemeja hitam serta celana katun dengan warna serupa. Sepatu pantofel hitam pun semakin melengkapi kesan elegan pada outfit yang ia kenakan.


"Selamat sore..., Anda yang bernama Resti? tetangga dari korban?" tanya pria itu.


"Betul. Ada apa, Pak?" tanyaku penasaran. Pria itu mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. Aku pun menyambutnya dengan ekspresi wajah yang masih dibuat bertanya-tanya.


"Perkenalkan nama saya Bromo Santoso. Rekan saya seorang polisi yang semula menangani kasus ini melimpahkannya kepada saya. Beliau yang menyuruh saya untuk kemari."


"Mungkin anda bisa langsung menemui istri korban saja, Pak. Ini rumahnya," kataku sambil menunjuk rumah Mbak Rina di seberang lorong.


"Lho? Dia bukan bersama anda?"


"Enggak, Pak." jawabku setengah terkejut. "Tadi saya tinggal sebentar di rumahnya."


"Itulah masalahnya. Dia tidak ada."


"Hah?" Kali ini aku terkejut secara penuh.


"Tadi saya sempat masuk ke rumahnya karena pintunya terbuka."


Aku langsung bergegas berjalan cepat ke rumah Mbak Rina. Pintunya memang terbuka. Padahal aku ingat sempat menutup pintu sebelum keluar. Aku menduga dia kabur meninggalkan rumah. Namun, tetap saja aku mengecek ke segala sudut ruangan terlebih dahulu untuk memastikan. Di ruang tamu, di dapur, kamar mandi, bahkan dengan polosnya aku mencari di kolong ranjang dan di dalam lemari. Aku tahu itu tidak mungkin tapi tetap ku lakukan.


Pria yang bernama Bromo itu hanya diam saja menyaksikan aku luntang-lantung kepanikan. Aku melihatnya kesal. Kenapa semua orang penting selalu bersikap meremehkan.


"Bantu saya mencarinya, Pak?"


"Sebelum anda melakukan itu, sudah saya lakukan lebih dulu."


Benar juga, jika memang dia sudah mencarinya kemana-mana dan tidak ada, kenapa aku harus mengulangi hal yang sama? Aku berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Embusan napasku tersengal seraya kedua tanganku bertolak pinggang. Keringat sudah mengaliri kening sampai leher.


Bromo dengan seksama memperhatikan jejak langkah kaki kucing yang masih membekas di lantai. Pola kapur posisi tergeletaknya korban pun masih tergambar di situ. Ia jongkok selagi jarinya mencolek bekas darah lalu mengingus-ingus dengan indera penciumannya. Aneh, sudah tahu itu darah, kok masih dicium-cium? Aku malah semakin merasa janggal dengan peristiwa ini. Terlebih ketika kasusnya diambil alih secepat itu oleh orang asing ini. Entahlah, untuk saat ini aku lebih mengkhawatirkan keadaan Mbak Rina yang pergi entah kemana.


Aku berlari keluar, berharap Mbak Rina ada di lantai bawah entah di warung, tempat laundry, atau di manapun barangkali ia hanya sedang keluar untuk keperluan mendesak. Bergegas aku menuruni tangga. Bromo hanya memandangku lalu tak lama ia turut berlari mengikuti. Dia memanggil-manggil namaku seolah berusaha mencegat. Bisa-bisanya dia tidak sigap mengetahui satu-satunya saksi kasus ini melarikan diri.


"Tunggu, Resti!" Dia berseru sembari mempercepat langkahnya menuruni tangga. Aku telah tiba di lantai dasar. Semua orang di sini seolah memandangi kami berdua dengan sorot mata yang tajam melebihi matahari. Tatapan mereka hanya menunjukan rasa ingin tahu yang tinggi, bukan karena peduli. Bahkan yang lebih menyebalkan, mereka hanya terpaku ketika menyaksikan kami yang dihinggapi kepanikan. Aku tetap memberanikan bertanya pada salah seorang di sana.


"Kak, lihat Mbak Rina, nggak?" tanyaku pada salah satu wanita paruh baya yang tengah berkumpul.


"Mbak Rina siapa?" Mereka malah bertanya balik. Aku lupa bahwa penghuni Rusun ini seringkali tidak saling mengenal satu sama lain. Aku memalingkan wajah ke arah pelataran dan gerbang Rumah Susun. Siapa yang bisa kutanyai? Sulit bagiku memilih seseorang yang mengenal Mbak Rina. Ku lihat tempat laundry yang menjadi langgananku mencuci pakaian, barangkali dia mengenal Mbak Rina, karena Mbak Rina merupakan langganannya pula karena aku sering melihatnya menitipkan pakaian kotornya di sini.


"Kak, lihat Mbak Rina?" tanyaku kepada si penjaga laundry.


"Oh iya... tadi pergi keluar sama laki-laki."


"Laki-laki? Siapa?"


"Nggak tahu, Mbak. Saya juga baru kali ini lihat."


Sepertinya kasus ini akan semakin melebar kemana-mana. Tidak seharusnya aku menjadi serepot ini, tetapi sebagai manusia yang waras, rasanya risih jika aku tidak membantu tetanggaku untuk menyelesaikan masalahnya. Akan ada rasa tanggung jawab moral yang mengganjal jika aku tidak turut membantunya. Tetapi yang dibantu malah jadi mempersulit keadaan. Harus berbuat apa aku sekarang? Kalaupun kasus ini aku abaikan, tentu lama-lama hukum akan turut menyeretku, karena akulah satu-satunya orang yang mempunyai peluang untuk terlibat. Aku adalah tetangga terdekatnya.


"Sudah, ayo kita kembali ke atas," ajak Bromo menepuk pundakku, sedikit membuyarkan kegelisahan. 


"Mbak Rina gimana?" tanyaku yang semakin khawatir.


"Soal Mbak Rina gampang, nanti saya hubungi rekan-rekan untuk turut mencarinya. Yang terpenting kita harus segera selesaikan kasus ini."


Ada benarnya juga, ya sudah. Aku menurutinya untuk kembali ke atas. 


***


Kami kembali memasuki rumah Mbak Rina. Entah darimana asalnya tiba-tiba di sekeliling Tempat Kejadian Perkara telah berkumpul enam ekor kucing yang tengah sibuk mengunyah kotak sereal yang tumpah di lantai. Kotak sereal makanan kucing itu adalah satu dari beberapa komponen barang bukti. Seharusnya tidak boleh ada yang merusak semua jenis barang bukti, bahkan menggeser se-inci pun dilarang, apalagi sampai memakannya. Tetapi namanya binatang, siapa yang bisa menyalahkan? Mereka kebal hukum.


Bromo hanya bisa menggiringnya keluar sebelum semakin banyak barang bukti yang rusak. Mereka pun melompat keluar jendela satu per satu. Aku melihat sesuatu yang aneh lagi di sini, jendela rumah Mbak Rina yang mengarah langsung ke dinding luar bagian depan tanpa balkon itu sudah dalam keadaan terbuka. Padahal seingatku sebelumnya masih tertutup. Atau mungkin aku yang salah mengingat. Lagipula bagaimana caranya kucing-kucing itu memanjat? Tidak ada celah pada dinding luar sebagai pijakan cakarnya karena temboknya cukup rata ditutupi semen.


Bromo terlihat sibuk memperbaiki TKP mengaturnya sedemikian rupa supaya bisa kembali seperti semula, terkadang mengukur skala dan perhitungan pada segala komponen temuannya. Sementara aku hanya terduduk di sofa sembari memperhatikan kesibukannya. Rasa penasaranku akan beberapa kejanggalan yang terjadi, menuntunku untuk mengajukan beberapa pertanyaan.


"Kenapa kasus ini dilimpahin ke kamu?" tanyaku dengan bahasa yang lebih luwes mencoba akrab. Ku kira dia akan marah karena merasa aku kurang sopan, ternyata dia menimpalinya dengan senyum. 


"Kepolisian di kota ini adalah yang paling realistis diantara kota-kota lainnya. Mereka seringkali memberikan kesempatan kepada pihak ketiga untuk menangani masalah semacam ini."


"Semacam ini? Maksud kamu?"


"Maksud saya, lihat sekeliling kamu. Apa kamu pikir mereka betah berlama-lama ada di tempat seperti ini menangani kasus kematian seorang pekerja toko?"


Aku geram mendengar itu, aku paham maksudnya. Ucapannya cenderung menyepelekan kaum bawahan seperti kami yang tinggal di rumah susun. Pantas saja cara mereka menangani kasus ini cenderung niat tidak niat. Aku bangkit dari sofa dan menentang perkataannya.


"Kalian pikir anggap kami apa? Kami juga berhak atas semua pelayanan, kami nggak pernah membangkang, kami taat membayar pajak. Kenapa malah kami diperlakukan tidak adil!?" Aku protes setengah menyeru. Bromo terlihat menyesali ucapannya.


"Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung. Tetapi memang itulah kenyataannya. Dan lagi, saya bukanlah bagian dari mereka seperti yang kamu pikirkan. Tolong, tenang!" katanya berusaha menenangkanku. Aku memalingkan wajah, menyibak rambut panjang yang menutupi mata dan menyelipkannya di daun telinga. Sesaat aku duduk kembali.


"Biar saya buka sebuah rahasia. Tapi tolong jangan katakan ini kepada siapapun," katanya sambil turut duduk di sofa yang berada di depanku. Aku tak menjawab apapun, mengangguk pun tidak, tetapi akhirnya dia melanjutkan bicaranya.


"Kepolisian Megakarta adalah tempat bisnis. Mereka seringkali pilah-pilih dalam menangani kasus. Jika kasusnya adalah tentang..., maaf, ...orang miskin, maka mereka melimpahkan tanggung jawab penyelidikan kepada detektif swasta seperti saya ini. Mereka hanya akan terima beres untuk itu."


"Jadi kamu bukan polisi?" tanyaku sedikit mereda.


"Bukan," jawabnya tersenyum. "Tapi kamu tenang aja. Nggak ada kasus yang nggak bisa saya pecahin. Serahkan semua sama saya." Dia terlihat menyambut sikap awalku yang mencoba akrab. Kali ini dia sudah mulai lebih berani menepuk pundakku ketika bicara. Memang sedikit teduh aku mendengar pernyataan logisnya. Benar apa yang dia katakan, Kota Megakarta adalah kota yang korup. Bahkan polisi di kota ini sudah tidak bisa diharapkan keadilannya.


***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA ITU DOUJIN? - Jenis karya yang sering disalahpahami