MISTERI SI GADIS KUCING (BAG. 4)
BAGIAN 4
KUCING - KUCING LAPAR
Sudah pukul 21.00. Aku masih berada di rumah Mbak Rina. Biasanya di jam-jam segini adalah waktu yang tepat untuk bersantai merebahkan tubuh selepas lelah bekerja. Namun, aku dilarang untuk pulang oleh Bromo. Dengan alasan, harus ada yang menyaksikannya bekerja. Meskipun aku hanya duduk-duduk di sofa tanpa melakukan apapun, tetapi hakikat dari bersantai seharusnya adalah melakukan aktifitas yang menyenangkan. Kalau cuma duduk menyaksikan orang bekerja, itu sama sekali tidak menyenangkan bagiku.
Selagi Bromo berfokus dengan ketelitiannya mengolah TKP, lama-lama aku bosan kalau hanya terus memandangi aktifitas kerjanya. Ingin aku membantu, tetapi aku yakin alih-alih meringankan pekerjaan, aku malah akan semakin membuat masalah. Aku tidak paham tentang hal-hal seperti ini, aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan.
Ku lirik remote TV yang tergeletak di meja. Iseng ku tekan tombol power mengarah ke layar TV tabung di depan sana. Aku terkejut karena begitu dinyalakan volumenya langsung nyaring. Suara pembawa acara yang memberitakan prakiraan cuaca tengah malam nanti yang katanya akan turun hujan menggelegar mengisi seluruh ruangan. Bromo juga ikut terkejut kala itu. Buru-buru ku kecilkan suaranya sebelum dia protes. Kini dia tercengang menatapku seolah menyalahkan. Bukan salahku juga secara teknis. Ini adalah salah Mbak Rina yang tidak mengecilkan volume TV dulu sebelum mematikannya. Memang tipikal orang malas selalu bisa dilihat dari caranya menggampangkan sesuatu.
"Kenapa nyalain TV?" tanya Bromo dengan nada sedikit meninggi.
"Emangnya kenapa?"
"Kerjaan saya kan butuh konsentrasi tinggi, cepet matiin!"
Memang menyebalkan, dia menghalangiku untuk pulang, juga menghalangiku untuk mengusir rasa bosan. Andai saja ponselku ada kuota internet, mungkin aku lebih memilih bermain ponsel daripada menonton TV. Tetapi baiklah, aku turuti kemauannya yang penting kasus ini segera berakhir. Ku matikan lagi TV yang semula menyala ini. Terbesit satu hal di pikiranku secara tiba-tiba...
"Kenapa nggak ada wartawan yang datang ke sini?" tanyaku kepada Bromo yang tengah sibuk memasukan sebutir sereal makanan kucing ke dalam kantung plastik klip kecil nan bening. Sepertinya pertanyaanku tak sampai di telinganya.
"Hey!" Kataku mengecek pendengarannya.
"Saya nggak tuli!" jawabnya sedikit kesal. Dia meletakan kantung plastik klip kecil itu di dalam tas hitamnya yang sudah penuh oleh komponen barang bukti kecil. "Yang tadi sore saya bilang itu, nggak cuma berlaku buat pejabat di kota ini. Tetapi juga korporasi termasuk Stasiun Televisi. Mereka nggak peduli dengan berita kematian kalangan bawah. Karena hampir nggak ada yang tertarik. Ketika orang terkenal yang mati, mereka bakal memberitakannya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Karena itu masih akan mengundang kepedulian banyak orang, juga ada pengaruh besar terhadap publik. Sementara kalau kaum macam kalian yang mati, di jalanan sekalipun. Mereka bisa aja cuma lewat sambil melangkahi mayat kalian."
"Aku agak tersinggung, tapi kamu emang bener sih... pinter juga kamu bikin kata-kata," kataku memuji.
"Nggak juga," jawabnya dingin. "Saya cuma mengutip dialog film Joker."
Rupanya dia coba-coba berjenaka. Namun aku tak sempat ber-reaksi tatkala tiba-tiba terdengar suara bergemuruh di luaran sana yang memekakkan telinga. Aku dan Bromo segera menuju ke jendela untuk melongok keluar. Beberapa ekor kucing saling kejar-kejaran berebut makanan. Ini adalah pemandangan biasa. Terkadang mereka sampai menjatuhkan tong sampah yang terbuat dari Drum minyak bekas sehingga suara gemuruhnya begitu nyaring terdengar ke seluruh penghuni Rusun.
"Kenapa mereka?" tanya Bromo yang merasa aneh melihat pemandangan kawanan kucing yang sedemikian gaduhnya.
"Yah... Biasalah. Kucing kalau laper ya gaduh. Sama kaya manusia."
"Oh..." jawabnya cuek. Dia kembali kepada kesibukannya. Sementara aku masih melihat-lihat pemandangan di bawah sana. Sepertinya prakiraan cuaca di TV tadi akan menjadi benar. malam ini tak secerah biasanya. Bulan tiada nampak di cakrawala karena tertutup gulungan awan kelabu. Angin bertiup cukup kencang sehingga mampu menerbangkan sampah kantung plastik dan koran bekas begitu tinggi menjangkau lantai tempatku berpijak.
Selembar koran bekas yang beterbangan itu mendekatiku. Iseng aku tangkap dan membaca isi berita di dalamnya. Apalagi kalau bukan berita kasus korupsi. Pada lembar sebaliknya pun berisi iklan kampanye salah satu calon walikota. Namanya Ir. Gusti Maharaja. Namanya saja sudah membuatku merasa dia ingin disembah. Orang seperti ini kok bisa-bisanya mencalonkan diri sebagai Walikota. Padahal dia pernah terlibat skandal perselingkuhan dengan seorang model iklan minyak angin. Tetapi namanya juga orang ber-uang, selalu bisa mengendalikan realita.
Lho? Kenapa aku harus membaca koran bekas ini? Isi beritanya saja menjijikan, lebih menjijikan dari noda pada lembarnya yang telah bercampur dengan lendir dari tempat sampah. Segera ku buang lagi begitu ku sadari perasaan menjijikan itu.
Kilat sudah mulai menyambar dari awan selatan. Bayangan gedung-gedung pencakar langit membentuk siluet tatkala kilat itu menampakkan diri seolah langit sedang memotret kota Megakarta. Gemuruhnya menggema kemudian karena tersusul oleh cahaya kilatnya yang telah sampai lebih dulu. Aku menyodorkan tanganku ke luar jendela merasa-rasa rintik gerimis yang mulai turun. Kucing-kucing liar kembali berlarian mencari tempat perlindungan. Curahnya semakin lebat tak butuh waktu lama. Ini adalah hujan pertama semenjak enam bulan yang lalu.
"Kok, kaya bau kaus kaki," gumamku sambil mengingus-ingus sekitaran. Mungkin itu adalah sampah kering yang baru diguyur air hujan sehingga baunya menyeruak. Aku hampir saja menutup jendela, tapi ku tahan ketika melihat seseorang di bawah sana berjalan santai di bawah guyuran deras tanpa mengenakan payung atau jas hujan. Ia terlihat menjinjing sebuah keranjang yang mirip dengan keranjang belanja. Deras hujan menyamarkan wajahnya ditambah lampu halaman Rusun yang remang. Aku paham postur tubuhnya ini. Seperti aku pernah melihatnya. Tetapi di mana? Ah mungkin saja hanya tetangga lantai bawah yang sedang membuang sampah. Karena dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam keranjang tersebut sambil menghampiri Drum sampah.
"Kamu ngapain di situ, cepet tutup jendelanya nanti malah airnya masuk ke ruangan!" seru Bromo memperingatkan. Oh, Ya Ampun aku hampir lupa. Bahkan separuh bajuku basah terkena cipratan air hujan. Segera ku tutup kembali jendelanya.
Aku kembali duduk di sofa. Dan melanjutkan kegiatan membosankanku lagi. Yaitu menyaksikan Bromo sibuk bekerja. Kalau dipikir-pikir, dia termasuk pria yang langka di kota ini. Maksudku, sebagai seorang petugas yang mengurusi hal-hal semacam ini, dia termasuk yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Itu bisa dilihat dari ketelitiannya yang cermat dalam memeriksa segala aspek yang berhubungan dengan kasus ini. Di tengah-tengah kebobrokan sistem di kota ini, dia adalah pembeda dari semuanya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sambil liatin saya gitu?" katanya membuyarkan lamunanku. Aku kikuk dibuatnya sehingga mataku langsung memandang ke sembarang arah yang penting tidak ke arahnya.
"Apa Mbak Rina dan suaminya melihara kucing?" tanya Bromo membuka topik baru. Meskipun aku tahu itu bukan sekadar topik pembicaraan, tetapi memang caranya menggali informasi untuk kebutuhan penyelidikan.
"Setahu aku enggak," jawabku tanpa memandangnya.
"Aneh..."
"Aneh kenapa?"
"Kenapa bisa ada makanan kucing di sini?" tanya Bromo lagi.
"Mana aku tahu, kan itu tugas kamu buat nyari tahu."
"Saya nggak nanya kamu, kok. Saya nanya ke diri saya sendiri," ujarnya sedikit menyebalkan.
"Oh...," responku kesal. Aku menilainya berbeda dari petugas kebanyakan, tetapi tidak berbeda dari pria kebanyakan. Setidaknya untuk pria dengan ragam rupa yang ideal seperti dia. Biasanya sedikit kaku dan sok jual mahal. Entah karena sengaja menebar pesona atau benar-benar sedang mengekspresikan dirinya yang dianggap menawan.
Segala rasa bosan ini membuatku mengantuk, aku menutupi mulutku yang menguap. Dia melihatku saat itu sembari tersenyum.
"Ngapain liatin aku sambil senyum gitu?" Aku mencoba mengembalikan pertanyaannya tadi.
"Kalau ngantuk, sana pulang aja. Barangkali besok kamu kerja," katanya menyuruhku.
"Beneran?" Tanyaku memastikan.
"Iya, saya masih bisa kerja sendirian kok. Lagipula kamu nggak banyak membantu."
Sebegitu menyebalkan jawabannya itu, Tanpa melempar kata-kata balasan, aku langsung keluar dari rumah Mbak Rina sambil membanting pintu. Bodo amat, aku tidak peduli kalau dianggap tidak sopan. Memangnya dia siapa bisa memperlakukanku seenak sendiri. Jika besok dia membutuhkan bantuanku, aku tidak akan mau melakukannya lagi.
Aku memasuki rumahku, ingin segera menikmati istirahat malam di tengah suasana hujan yang deras. Yang tidak pernah ku katakan pada pria itu adalah bahwa besok adalah hari cuti, sengaja supaya dia mengira aku bekerja sehingga tidak mengganggu waktu liburku. Aku akan tidur sepuasnya.
Selepas mengunci pintu rumah dari dalam, aku langsung menuju ranjang tidur. Ya, aku tahu kalau hari ini belum sempat mandi dan bersih-bersih, peduli amat, aku sudah sangat kelelahan dan mengantuk.
Eh tunggu, selimut di ranjangku kok mengembung? Bentuknya memanjang seolah menyelimuti badan yang terbaring. Ini tidak beres, sungguh tidak beres...
***
Komentar
Posting Komentar