MISTERI SI GADIS KUCING (BAG. 5)
BAGIAN 5
HARI BADAN GEMETAR
Di luar, hujan semakin deras. Seharusnya ini menjadi titik ternyaman dalam menikmati tidur di atas kasur empuk. Namun tempat tidurku disabotase oleh orang asing yang tubuhnya tertutup selimut rapat-rapat. Entah siapa, aku sangat takut untuk membukanya, apa lebih baik aku kembali saja ke rumah Mbak Rina? Tidak! Aku tidak akan kembali menemui Bromo, nanti malah dia pikir aku hanya beralasan karena enggan jauh darinya. Aku paham betul watak pria semacam itu.
Ya Tuhan, agaknya aku nobatkan hari ini sebagai 'Hari Badan Gemetar' saja. Karena sudah beberapa kali sejak siang tadi kejadian demi kejadian telah membuat tubuhku mengalami tremor. Aku juga sudah lelah akan semua pertanyaan batin yang belum terjawab. Tak ingin aku menutup hari ini dengan pertanyaan lagi, sudah cukup rasanya aku menabung misteri. Kali ini benar-benar akan ku cari tahu jawabannya sekarang juga.
Pelan-pelan ku langkahkan kaki mendekati ranjang. Tanganku gemetaran ketika hendak menyentuh ujung selimut. Sebelum ku singkap, aku menghitung dalam hati. Satu... Dua... Tiga... Langsung saja ku tarik paksa selimut itu. Sesosok wajah dengan mata melotot serta lidah menjulur keluar mengagetkanku. Tak bisa ku tahan perasaan kaget bercampur takut. Refleks aku menjerit keras. Lalu kedua tangan menutup wajah yang ketakutan ini.
Di sela-sela jari tanganku yang menutupi wajah, aku mengintip sesekali. Orang misterius itu tiba-tiba tersenyum kemudian tertawa renyah. Tunggu! Dia perempuan. Aku kenal wajah itu. Langsung ku ambil bantal di ranjang itu dan ku lemparkan keras-keras ke wajah manusia biadab ini. Semakin keraslah tawanya karena merasa puas telah membuatku ketakutan setengah mati.
"Masa muka temen sendiri nggak kenal," katanya masih dengan tawa menjengkelkan.
"Sialan, mau bikin aku mati jantungan ya kamu, Lis!?" kataku sedikit meninggikan suara. Sebetulnya dia sudah seringkali mengajakku bercanda dengan cara-cara mengejutkan semacam ini. Namun entah kenapa karena hari ini aku sudah banyak mengalami hal tidak karuan, aku menjadi lebih sensitif dengan sedikit saja kejutan.
Lisda, teman kerjaku di toko kue. Bisa dibilang dia adalah satu-satunya teman yang paling dekat denganku. Dia pun bangkit dari posisi rebahnya. Kini ia menduduki sisi tepi ranjang seraya memperhatikan ekspresi wajahku yang masam.
"Maaf deh...," Lisda menghentikan tertawanya. Tentu saja aku jengkel. Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
Aku tidak langsung menjawab kata maafnya. Sebetulnya dia tidak sepenuhnya salah. Karena memang dia sepertinya tidak tahu tentang kasus pembunuhan yang menimpa tetanggaku.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar berulang-ulang. Kali ini temponya agak cepat dan keras. Agaknya lebih cocok disebut gedar-gedor daripada mengetuk. Layaknya orang kebelet di depan pintu toilet. Jujur saja aku agak paranoid dengan suara-suara mengejutkan. Apalagi ketukan pintu. Namun aku sedikit lega ketika di luar pintu ini kemudian terdengar suara seorang Bromo.
"Res, buka pintunya!" katanya berulang-ulang.
Semula aku enggan membuka. Namun suaranya sangat mengganggu sekali. Segera aku mendekati pintu dan membukanya. Wajah Bromo nampak khawatir. Namun berubah menjadi datar setelah menatapku.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bromo seolah heran.
"Nggak apa-apa, emangnya kenapa?"
"Tadi bukannya suara jeritan kamu?"
"Oh..., Iya itu tadi ada temen di dalem, aku kaget makanya teriak."
"Temen?"
"Udah..., aku ngantuk mau istirahat!" Pintu langsung ku tutup. Masih aku merasa kesal dengannya yang serba sok kegantengan itu. Nyatanya dia memang mengkhawatirkan keselamatanku. Tentu bukan karena peduli, melainkan karena akulah satu-satunya kunci yang tersisa untuknya memecahkan kasus ini. Dia hanya butuh aku ketika ada maunya.
Aku kembali menghampiri Lisda yang masih duduk di tepi ranjang. Kemudian aku turut duduk di sebelahnya.
"Kamu ngapain sih? kok udah tiba-tiba di rumahku aja?" tanyaku agak cerewet.
"Aku udah ketok pintu ngga ada yang nyahut. Ya udah aku masuk aja, lagian pintunya nggak dikunci, kirain kamu di dalem. Eh... Aku cari ke mana-mana nggak ada. Ya udah aku tiduran sambil nungguin kamu pulang."
"Iya maksudnya ngapain kamu ke mari malem-malem begini?"
"Lah? Biasanya kan kalau aku habis kencan pulangnya nginep di sini. Kamu kan tahu kalau gerbang kost aku jam segini pasti udah digembok."
"Kenapa nggak nginep di rumah cowok kamu aja?"
"Sembarangan..."
"Kok sembarangan? Cowok kamu kan orang kaya, dokter lagi. Masa rumahnya gede kamarnya cuma satu. Pinjem lah satu buat nginep kamu. Atau kamu nginep di kliniknya kek."
"Yeee... Emang aku pasien." Lisda kemudian terdiam sembari memperhatikan wajah resahku. "Kamu dari mana sih, Res? Cowok itu tadi siapa?"
"Aduh..., aku nggak bisa cerita sekarang. Besok aja ya..., capek banget, ngantuk." kataku sambil menguap tanpa menutupi mulut. Bagiku, menutup mulut di saat menguap di depan teman dekat itu tidak perlu dilakukan.
"Besok kamu cuti, kan?" tanya Lisda.
"Iya lah..., gantian besok kamu yang kerja!" Aku langsung berbaring memeluk guling. Selimut ku tarik hingga menutupi sekujur tubuh. Suasana malam hujan deras ini tentu harus segera ku nikmati. Bodo amat kalau Lisda terganggu dengan bau badanku karena belum sempat mandi seharian ini.
***
Pagi harinya, Lisda menggoyang-goyangkan badanku yang masih merebah menikmati tidur. Tentu saja aku menolak untuk dibangunkan karena ini adalah hari cuti. Akan aku gunakan untuk tidur sepuasnya. Namun, dia tak menyerah, sampai-sampai menarik badanku kuat-kuat. Tenaganya cukup super hingga mampu membuatku terguling dari ranjang.
"Aduh..." ucapku ketika badan terbanting ke lantai. "Kamu apa-apaan sih, Lis!"
"Rasain... Makanya bangun."
Mataku masih terpejam meski aku sudah keluar dari area tempat tidur. Aku berusaha bangkit dari lantai hendak kembali menaiki ranjang. Lisda masih saja berusaha membuat kedua mataku terbuka. Dia menampar-nampar pipiku. Baiklah, aku akan membuka mata. Semoga hal yang pertama ku lihat di hari ini adalah hal yang baik.
Ku lihat kini dia telah berpakaian rapi mengenakan seragam kerja. Wajahnya dirias seputih telur. Bibirnya merah merekah, alisnya telah terukir bagai bentuk siluet sayap burung camar di lukisan senja.
"Apa sih, Lis? kenapa? Aku kan cuti ngapain dibangunin?" Tanyaku kesal.
"Mumpung aku belum berangkat kerja, cepet kamu ceritain soal kemaren."
"Soal apa?" tanyaku pura-pura lupa.
"Yang kamu bilang semalem katanya mau kamu ceritain."
Aku heran dengan orang ini, rasa penasarannya begitu tinggi, bahkan pada hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ia ketahui. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan terlalu memikirkannya. Tetapi, dia bahkan lebih memilih menunda berangkat kerja daripada harus dihantui rasa kepo sepanjang hari.
Aku duduk di tepi ranjang dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia duduk di sisi kiri. Perlahan aku ceritakan semua kejadian kemarin kepadanya. Ku jelaskan pada setiap detailnya tanpa tertinggal sedikitpun. Kecuali perihal penilaianku terhadap Bromo. Itu adalah satu-satunya hal yang tidak ku ceritakan. Aku tidak ingin dia meledekku macam-macam.
Kemudian timbul sebuah pertanyaan darinya. "Terus mayatnya sekarang gimana?"
"Mana aku tahu, sana tanya sama orangnya."
"Bukan gitu, masa seharian belum ada laporan tentang kondisi terkini mayatnya, sedangkan proses autopsi mayat baru tak butuh waktu lama, paling tiga sampai empat jam."
"Kamu tahu dari mana?" tanyaku kurang yakin.
"Yaelah... Pacarku kan dokter bedah."
"Bener juga."
Aku pun heran, kenapa kasus ini terkesan seperti diperlambat. Terlalu banyak hal yang tidak aku pahami sehingga membuatku terlihat bodoh. Pantas saja Bromo cenderung meremehkanku. Pria itu, seharusnya tak secepat ini aku percayai. Sudah sejak kemarin dia berada di sini, tetapi kasus pun belum ada kemajuannya. Ditambah lagi dia juga seolah tidak terlalu mementingkan tentang kepergian Mbak Rina.
Apa yang dikatakan Lisda semakin membuka pikiranku, sebetulnya kalau aku mau berusaha untuk lebih mencari tahu, kasus ini bisa lebih cepat terbantu untuk diselesaikan. Namun, aku pun sadar bahwa sejauh ini aku kurang memberikan kepedulian secara penuh terhadap kasus ini, ini karena yang menjadi korban bukanlah keluargaku, bukan kerabatku, bukan temanku, melainkan hanya tetangga biasa yang istrinya adalah orang menyebalkan.
Seharusnya aku tidak boleh demikian. Selama ini aku selalu menjadi orang yang tidak peka terhadap sosial. Aku jarang bisa berguna buat orang lain. Mungkin ini adalah cara Tuhan memberikan kesempatan untukku melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ketika ada kesempatan untuk membantu sesama, aku akan berdosa sekali jika hanya acuh tak acuh. Sebaiknya aku berusaha lebih keras lagi, karena berbuat baik tak boleh setengah-setengah. Apalagi aku adalah satu-satunya harapan kunci dari penyelesaian kasus ini. Jika bukan aku lalu siapa?
"Kayanya ada yang bakal disuruh lembur, nih!" ujarku meledek. Lisda memandang ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00. Keasyikan bercerita membuat kami tidak menyadari waktu telah berlalu begitu cepat.
"Gawat!" ucapnya panik. Dia bergegas pergi untuk berangkat kerja tanpa basa-basi. Karena jika seorang karyawan toko kue terlambat, dia akan mendapat hukuman untuk bekerja lembur sampai pukul 22.00.
Lisda keluar dari rumahku dengan tergesa-gesa tanpa sempat menutup pintunya kembali. Terpaksa aku yang sudah mager ini harus bangkit untuk menutupnya. Namun sebelum kututup, Bromo sudah berdiri di depan pintu sambil menatapku tajam.
"Kamu harus lihat ini. Ikut saya...!" katanya langsung menarik paksa tanganku kemudian. Aku tak bisa berontak karena tenaganya begitu kuat.
***
Komentar
Posting Komentar